Saturday, May 12, 2012

Kumpulan Hadis


ULAMA” DIBUTUHKAN BESOK DI AKHIRAT

Sesungguhnya ahli surga benar-benar memerlukan u’lama’  didalam surga. Demikian itu karena setiap jum’at mereka mengunjungi Allah SWT. Manawarkan kpd mereka :  “mintalah kepada-ku apa yang kalian kehendaki“  lalu mereka berpaling kpd para ulama’ seraya bertanya  ”apakah gerangan yang kami minta?” maka para ulama’ berkata kpd mereka : “ mintalah kpd-Nya demikian,demikian.”mereka masih tetap memerlukan para u’lama’ sekalipun didalam surga, sebagai mana mereka memerlukan diwaktu didunia. ( HR. Ibnu sakir melalui jabir r.a.)

 MEMUTUS MENDO’AKAN ORANG TUA MEMUTUS RIZQI

Apabila seorg hamba tidak mendooakan kedua org tuanya maka rizqi akan terputus daripadanya. (HR. Ad-dailami)

BERDO’A DENGAN YAKIN DIKABULKAN 

Berdo’alah kalian kpd Allah dg berkeyakinan akan dikabulkan. Dan ketahuilah kalian bahwa Aallah SWT. Tidak akan mengabulkan do’a yang dipanjatkan dari hati yang tidak khusyu’ dan lupa.( HR. Turmudzi melalui abu hurairoh ra.)

SEDANG-SEDANG DALAM MENCINTAI DAN MEMBENCI

Cintailah kekasihmu secara sedang-sedang saja siapa tau suatuhari dia akan menjadi musuhmu: dan bencilah org yang engkau benci secara  biasa-biasa saja siapa tahu suatu hari dia akan menjadi kekasihmu. (HR. Turmudzi)

CINTA KASIH TERHADAP SESAMA

Amal yg paling utama stlh iman kepada Allah adalah cinta kasih terhadap sesama manusia. (HR.imam thabrani)

KEUTAMAAN BERSHOLAWAT ATAS NABI

Telah datang kepadaku utusan robku, lalu ia berkata : “ barang siapa diantara umatmu bersholawat untukmu sekali sholawat maka Allah mencatat sepuluh kebaikan baginya, menghapus daripadanya sepuluh keburukan, ditingkatkan kedudukannya sebanyak sebanyak sepuluh derajat, dan diberikan kepadanya hal yang serupa dengan kesemuanya itu. (HR. ahmad melalui abu tholhah)

Friday, May 11, 2012

Rindu ini untuk mamak


 Rindu Ini untuk Mamak


“Nduk, bapak nggak habis pikir, kamu bisa punya pikiran kuliah sejauh itu, emang nang kene ora enek kampus neh opo selain Unila?1” bapak semakin membuatku tartekan di sini, di kampung halaman yang menyesakkan dada. Setelah sebelumnya aku gagal lagi untuk masuk PTN di Lampung. Sebenarnya bukan aku tidak menghargai tanah kelahirankku sendiri. Tapi, mungkin karna kejenuhan dan rasa terkungkung di dalam belenggu tempurung yang terlalu 
penat. Pedih ini semakin mengiris, orang tuaku tidak mengizinkanku pergi ke Jogja, hal yang tak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya.

“Ya udah Nduk, kalau emang kamu niat, kamu kudu2 prihatin, rajin sholat, rajin pakai jilbab dan mamak harap kamu ngambil jurusan pendidikan aja, biar ilmu kamu itu ngalir”, itu kalimat terakhir mamak dari perjuanganku mati-matian meyakinkan mereka. Bibirku kurasakan sunggingan senyum di sudut-sudutnya, aku bebas sekarang tanpa aturan, aku bisa keluar dari rumah yang kupikir lebih mirip seperti pasung yang mengungkung.

Ya, itu memang tujuan awalku , yang penting aku bisa pergi dari sini, lari dari rasa malu dengan teman-teman karena lagi-lagi aku harus gagal masuk PTN.

Aku berangkat hari jum’at pukul 13.00 tepat, setelah bapak sholat jum’at. Bapak mengantarku sampai ke kota, menuju PO membeli tiket jurusan lampung-jogja. Setelah itu tugas bapak seakan selesai, kemudian hanya melihat dan merelakan anak putrinya yang keras kepala ini pergi ke seberang. 

Di terminal Jogja, Mas Yoga sudah menunggu sejam yang lalu. Dia adalah tetanggaku di kampung, orang yang menjadi pengaruh besar kenapa aku bisa di Jogja saat ini. Dia tinggal tiga tahun lebih awal dariku. Sudah semester tujuh sekarang.

Beberapa hari di Jogja, di tengah-tengah calon mahasiswa lain, tepat di kampus satu, lantai satu, samping tangga di bangku nomor satu, aku dan Mas Yoga melihat-lihat deretan Prodi di belakang brosur Universitas yang aku tuju.

“Gimana mas? Yang pendidikan mahal banget”, kataku ketika melihat satu prodi pendidikan bahasa inggris dan deretan yang di depannya memiliki embel-embel pendidikannya, terlihat angka enam sampai tujuh diikuti angka nol enam kali. Kecewa. Kenapa berbeda dengan yang diceritakan Mas Yoga di telfon kemarin?

“Saiki ngene wae3 ver.”kata yoga padaku, “kamu sekarang bayar gede4, tahun berikutnya kamu bakal bayar lebih kecil, seterusnya sampai kamu lulus. Dan prospek ke depan kamu juga bagus. Inget tahun 2015 nanti ada pensiun besar-besaran lho?”Yoga menjelaskan panjang lebar meyakinkanku. Tatapannya penuh harap.

Aku hanya diam, memikirkan orang tuaku, mampukah? Sedangkan mereka di kampung hanya bergulat dengan lumpur-lumpur, bermain dengan padi-padi, sampai panen tiba. Butuh berbulan-bulan untuk memperoleh uang satu juta saja.

Lalu aku melihat deret yang berbau Religi, sastra arab? atau tafsir hadits? kelihatannya sangat murah, hanya 1,9 juta. Tapi kurasa kurang cocok denganku, bayanganku adalah seorang ulama. Lalu kulihat angka-angka yang paling kecil lagi. Ow, ada sastra Indonesia, hanya 2,2 juta. Tapi Mas Yoga terus mendesakku untuk mengambil jurusan pendidikan agar aku tidak menyesal nantinya. Dan akhirnya aku mengambil prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan diterima. 

Aku menelpon mamak lagi dan menjelaskan biaya-biaya perkuliahan dimasing-masing prodi yang menjadi sasaranku “kalau Bahasa Inggris tujuh juta Bu, kalau BK enam juta tapi sebenarnya ada yang murah, Sastra Indonesia cuma dua koma dua juta”.
“Yo wis5 Nduk, kamu tahu kan kemampuan mamakmu ini? kamu mau mamak gak makan karena cuma buat kuliahin kamu?”, kata Ibu, tapi tetap aku rasakan suara kesabarannya.

“Pokoknya aku nggak mau tau mak, aku udah diterima di Pendidikan, prospeknya lebih besar ini”. Mamak menutup telepon sepertinya disertai rasa kesal. 
Aku tetap pada pendirianku.
Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun hingga akhirnya empat tahun aku jalani, aku hampir selesai membuat skripsi. Memang terkesan aku selalu memaksa ketika harus membayar uang semester yang biayanya lima kali penghasilan orang tuaku setiap panen tiba . Aku tidak peduli yang penting kemauanku dituruti.
***

Akhirnya sampai juga yang paling aku tunggu-tunggu, bulan depan aku wisuda, aku akan jemput mamak untuk menghadiri hari yang sudah sejak lama aku nantikan.
Aku sudah tidak sabar ingin bertemu mamak, aku ingin cepat-cepat beri tahu mamak bahwa perjuangan mamak menguliahkanku selama ini tidak sia-sia. Aku lulus cumlaude. Aku yakin mamak pasti bangga dan bahagia mendengar ini.
Sampai juga aku di kampungku, tak banyak yang berubah, hanya beberapa saja yang sedikit berbeda. Terlihat beberapa rumah yang arsitekturnya berubah. Sedikit menyesal dengan perubahan itu, ada kerinduan mendalam di sana. Kenapa harus berubah.

Aku masih di dalam travel, menyusuri jalan yang sangat tidak asing bagiku. Seperti kembali ke masa lalu.
Tapi aku lihat orang-orang berjalan kearah barat, sama seperti laju travel yang aku tumpangi. Tapi, mendung. Terasa padam. Ku lihat beberapa orang yang aku kenal. Mbak Dewi. Miris melihat matanya bengab, seperti habis menangis berhari-hari.
Semakin dekat dengan arah tujuanku pulang, semakin rapat rumunan orang-orang. Hatiku gelisah, resah, seperti teremas remas melihat padamnya siang di kampungku ini. Oh Tuhan, ada apa? Kerumunan itu berpusat di rumahku, di rumah berdinding setengah batu bata merah setengah papan dari kayu jati, tidak berubah.
Aku segera turun namun tidak bergegas lari. Semua orang-orang melihatku acuh, seperti tak ada pentingnya dengan kepulanganku. Dari beberapa mereka aku melihat Siwo Mus. Aku akan bertanya saja dengannya. Aku berlari kecil menuju tempat siwo duduk, di samping rumahku, “Siwoo!” Panggilku langsung kudekap tubuhnya yang dua kali ukuran tubuh mamak.

“Nduk kamu udah pulang?” matanya sembab, suaranya bergetar.

“Ada apa wo, kenapa ramai? tanpa basa-basi.

Tanpa menjawab, malah tangisnya pecah. Aku lihat bapak berjalan tak jauh dariku, tatapannya seperti penuh kebencian mendalam. Aku coba sunggingkan senyum, diam tak menggubrisku. Berlalu tanpa menyapaku sedikitpun. Apa salahku? Sakit sekali rasanya.

Di dekat pohon beringin depan rumah, ku lihat adik kecilku, Nduk Anik dipangku Bulek Nur, adik ipar bapak, hatiku makin perih melihatnya menangis tak henti-henti.
Perlahan aku masuk di sela-sela kerumunan. aku melihat ujang yang tertutup kain jarit, semakin aku masuk, semakin terlihat jelas memenjang ujung yang aku lihat tadi. Lemas semua badanku, tapi tak menyerah aku mendekati yang aku lihat tadi. Perlahan aku dekati, perlahan aku buka kain jarit itu. Oh Tuhan…. “Mamak!” memekik tak kuasa.
“Jangan tinggalin vera mak!”. Hancur, semua terlintas mendesak-desak dalam di otakku, semua tentang pengorbanan mamak, semua sakit hati mamak karna kerasnya hatiku, semua tantang kesabarannya menghadapiku. Lalu semua hilang. Aku tak ingat apa-apa lagi.

***

Aku terbangun dari tidurku, tubuhku gobios6 penuh dengan keringat, sesak ini masih terasa di dada. Untung cuma mimpi.
Aku segera merapikan tempat tidur dan bergegas mandi untuk bersiap-siap berangkat kuliah. Untung saja tugas filologiku sudah kelar semalam. Ya, akhirnya aku masuk jurusan yang lebih miring biayanya.

Hapeku bergetar, mamak.
“assalamu’alaikum, iya mak”. 
“wa’alaikumsalam Nduk, piye7? Uangnya masih cukup nggak?” Tanya mamak, suaranya menentramkan hati.
Aku tersenyum bahagia, aku masih bisa mendengar suara kesabarannya. Dan pastinya aku masih bisa merasakan aroma kasihnya. “Masih mak.” aku ingin membuatnya merasa lebih ringan bebannya.

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/13303093671141381758.jpg
Hatiku berbinar, aku tidak salah menuruti kata mamak dulu, aku tidak ingin mimpiku barusan menjadi kenyataan. Tidak mau, sama sekali tidak mau. Karna aku sayang sekali mereka.

Menghantarkan Orang Tua ke Surga


Menghantarkan Orang Tua ke Surga
Masih ingatkah kita dengan sebuah kisah di masa Rasulullah? Tentang ketaatan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya berjihad dengan satu pesan, “Jangan pergi sebelum saya pulang”. Dan ternyata, dalam masa kepergian suaminya, orangtuanya sakit keras. Saudara-saudaranyapun memintanya hadir, untuk menemui orang tuanya yang sedang sakit, namun karena ketaatannya kepada suami, dia tak juga berangkat menemui orang tuanya hingga meninggal. Tentu, kita semua mengingatnya bukan?
Bagi kita manusia biasa, peristiwa tersebut terasa amat janggal. Tak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang anak mampu bertahan tidak menemui orang tuanya yang sedang sakit keras bahkan sampai meninggal, hanya karena taat kepada pesan suami. Mungkin, sebagian kita bahkan akan mengumpat dan mencaci maki kepada wanita tersebut bila kita hidup di masa itu.
Kita akan katakan kepada wanita tersebut sebagai anak yang tak berbakti, anak yang tak tahu balas budi atas kasih sayang orang tua, anak yang keterlaluan, tak punya perasaan, dan berbagai umpatan yang lainnya.
Namun, apa kata Rasulullah ketika ditanya tentang kejadian itu? Rasulullah dengan mantap menjawab, bahwa orang tua wanita tersebut masuk surga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi wanita shalihah. Subhaanallah!
Karenanya, marilah kita para orang tua berusaha sekuat tenaga, untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh dan sholihah. Anak yang akan senantiasa mendo’akan kita kapan pun dan di manapun berada. Anak lelaki yang mampu menjadi qowwam bagi keluarganya, dan tetap berbakti kepada orang tuanya, serta anak perempuan yang menjadi istri dan ibu shalihah, yang mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah pula.
Kepada para orang tua yang telah mengantarkan putra-putrinya ke dalam kehidupan rumah tangga, janganlah menjadi orang tua yang egois, yang selalu ingin didampingi anak-anak, dan tak mau melepaskan kepergiannya. Relakan anak-anak pergi dari pangkuan kita, untuk menjalani hidup mandiri, menjadi nahkoda kapal layar yang telah dibangunnya, sebagai salah satu bukti kasih sayang kita kepada mereka.
Do’akan selalu, agar anak-anak lelaki kita dapat menjadi nahkoda-nahkoda yang handal, yang mampu mengarahkan bahtera rumah tangga menjadi rumah tangga yang barokah, penuh cinta dan kasih sayang, serta mampu menjadi qowam bagi istri dan anak-anaknya. Do’akan pula agar anak-anak perempuan kita dapat menjadi istri-istri sholihah, yang dapat mencipatakan susana rumah yang bagaikan surga dunia dimata keluarganya, mampu melahirkan anak-anak yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya, serta mampu memberikan rasa nyaman kepada suami dan anak-anaknya. Hingga pada akhirnya, mereka menjadi pengantar-pengantar kita meraih surga-Nya. Insya Allah. Aamiin.
Add caption
Wallohu a’lam bbishshowwab.

Thursday, May 10, 2012

Berbada


 

BERBEDA

       Labaran kali ini keceriaan tampak jelas di rona wajahku. Berkumpul bersama keluarga. Tiga tahun di pondok membentuk karakterku lebih anggun dari sebelumnya. Bapak mungkin bangga melihat anak laki-lakinya ini mengikuti jejak kedua kakaknya, seorang penghafal Kalam Tuhan.
            Dan yang paling membahagiaan adalah aku akan segera bertemu dengan Indah, kekasih hati yang setia menungguku di kampung halaman. Aku tau dia akan senang melihat aku yang sekarang, bukan lagi menjadi anak nakal seperti semasa sekolah dulu.
            “kakak, usia Indah sepertinya sudah layak untuk menikah,” ucapnya saat aku temui selepas isya, saat takbir kembali dikumandangkan, bergema memenuhi udara. Pancaran matanya tulus membuatku sulit menolak apa yang menjadi permintaannya itu. Aku diam, hanya memberi sebingkis senyum untuk gadis berdarah pribumi ini.
            Aku hanya ingin melepas rindu ini, bukan merelakan masa depan. Perasaan ini tidak menentu, bayangan wajahnya yang lembut semakin membuatku tidak berani memutuskan apa yang harus aku putuskan. Sisi hatiku yang lain meyakinkan aku tidak boleh memutuskan rasa bangga bapak terhadapku. Tapi bagaimana jika Indah lebih dulu dikhitbah  seoarang selain aku? Betapa remuk hatiku.
            Secepat kilat bapak telah mendapat kabar ini. Tanpa menungguku berfikir apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu.
            Selepas maghrib bapak memintaku menemuinya di ruang tamu. Bapak sudah menunggu sedari tadi, aku memposisikan diri di depan bapak berseberangan meja panjang yang penuh dengan kue-kue lebaran. Wahibah, adikku meletakan secangkir kopi di meja, tepat di depan tempat di mana bapak duduk. Kemudian kembali ke dapur, membantu ibu.
            Aku tahu, keadaan ini akan menjadi keadaan terburuk. Hatiku masih tidak menentu. Memikirkan bagaimana aku harus menjawab pertanyaan bapak. Lalu bagaimana aku harus menjawab permintaan Indah kemarin malam.
            “Kenapa mau cari calon istri diam-diam sama Bapak?” bapak membuka pembicaraan. Pertanyaan bapak seperti menohok di tenggorokan. Ngilu di dalam hati. Aku diam. “Akan lebih baik jika keturunanmu sama dengan keluarga kita, sama dengan Si Embah,” lanjut bapak menjelaskan apa yang diinginkan dari calon menantunya. Keturunan.
            Lagi-lagi aku diam, tapi hati ini berontak. Apa yang salah dengan keturunan? Toh dia begitu baik segala-galanya, cantik wajahnya, baik akhlaknya, rajin ibadahnya, lembut hatinya. Kenapa hanya karena dia pribumi membuat nilai yang begitu indah didirinya tertutupi. Indah, seperti namamu, aku tidak akan bisa meninggalkan gadis sesempurna itu.
            Adzan isya memecah pikiranku. Bapak mengambil kopi di depannya, lalu meneguknya dua tegukan. Meletakannya kembali. “Ke masjid le,”perintah bapak menutup pembicaraan malam ini tanpa menunggu jawabanku atau memberiku sedikit kesempatan untuk bicara. Ini tidak adil. Beliau beranjak keluar rumah menuju masjid yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari rumah.
            Kata kata bapak yang terakhir sebenarnya adalah keputusan mutlak bahwa aku harus menuruti apa yang menjadi keinginan bapak. Meninggalkan yang aku tunggu bertahun tahun, yang telah terpupuk dalam di relung sana, dan meninggalkan mimpi yang pernah dibangun bersama. Perih.
            Semangat ini tak lagi menggebu-gebu seperti saat pertama tiba di sini. Kandas. Hari hari di rumah menjadi terasa begitu hambar. Hingga akhirnya aku harus kembali ke kediri tanpa semangat. Hilang. Hampa.
                                                                        ***
            Pak supir menghentikan busnya di terminal Terboyo, Semarang. Butuh setengah hari lagi untuk sampai di kediri. Aku masih duduk di kursi nomor dua tepat di samping jendela, sengaja kupilih di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan di luar, mengobati kejenuhan. Pikirankuku kosong. Semntara orang-orang bergegas turun dari bus untuk sekedar mencari udara segar atau mencari kamar mandi, atau mungkin memilih warung nasi untuk sekedar mengganjal perut dan menghilangkan rasa mual. Beberapa orang mencari listrik untuk mengecas hapenya.
            Aku teringat bagaimana reaksi Indah saat aku berpamitan tanpa memberi jawaban yang pasti padanya. Kecewa. Itu yang aku tangkap dari rautnya yang begitu lembut. Maafkan aku Ndah, aku benar benar mencintaimu, tapi aku tidak bisa. Mataku berkaca-kaca. Terasa pilu sekali di hati. Akhirnya tumpah juga segala gundah di hatiku, menetes melewati pipiku, kemudian beberaopa saat jatuh satu persatu di jaket biru pemberian ibu yang aku kenakan.
“Nggak turun Bang?” salah satu supir memecah lamunanku. Segera ku usap air mataku.
“Owh, iya Pak, kamar mandi di mana ya?” basi- basi aku bertanya. Aku tidak ingin dia melihatku menangis.
“Owh, di ujung sana, barat warung Pad**g kan ada musola, nah itu belakangnya,” bapak itu menjelaskan sambil menunjuk ke arah warung Pad**g yang berada di ujung terminal, mataku mengikuti.
“O.. iya Pak, makasih,” kataku semberi memberi senyum padanya, kemudian segera keluar dari bus.
“Ya” bapak itu mengiyakan kemudian mengambil posisi paling nyaman untuk tidur.
Setelah keluar dari kamar mandi aku mencari posisi paling nyaman untuk beristirahat, setidaknya duduk sejenak merenggangkan otot kakiku yang setelah delapan diperjalanan dalam posisi yang sama. Aku menuju musola, mengambil posisi di teras musola, meletakan rangselku dan duduk di sebelahnya. Pikiranku tentang Indah tak mau berhenti. Kembali bermunculan di setiap sudut otakku.
Setelah beberapa saat terdengar pengumuman yang bunyinya bahwa bus arah kediri akan segera berangkat, meminta para penumpang segera menaiki bus. Entah kenapa tubuh ini tidak mau beranjak. Hati ini memintaku untuk tetap disini. Bimbang. Bingung. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kembali ke kediri. Kalau aku ke kediri artinya aku melepaskan seseorang yang sangat aku cintai untuk di khitbah orang lain. Tidak. Aku tidak ingin ini terjadi. Aku akan kembali menjemput Indah di kampung.
Seorang dari mereka menghampiriku. “Mas, kita berangkat sekarang,” aku terdiam, bingung. “Eh… kok malah diam, buruan!” katanya sedikit mengeraskan suaranya.
“Saya berhenti di sini aja Pak?” kataku tanpa ku duga juga akhirnya keluar dari mulutku. Apa-apaan ini? Aku sendiripun tidak mengerti dengan keputusanku. Bimbang, bingung, dan di sinilah awal kisah panjangku…

Bersambung…