Thursday, September 27, 2012

Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Dan Apa-apa YangDiucapkan Oleh Orang Yang Diajak KeArah Itu Dan Yang Diperintah Berbuat Kebaikan Atau Dilarang Berbuat Keburukan


Kewajiban Mengikuti Hukum Allah Dan Apa-apa YangDiucapkan Oleh Orang Yang Diajak KeArah Itu Dan Yang Diperintah Berbuat Kebaikan Atau Dilarang Berbuat Keburukan
Allah Ta'ala berfirman:
"Tetapi tidak, demi Tuhanmu. Mereka belum sebenarnya beriman sebelum mereka meminta keputusan kepadamu perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau berikan itu dan mereka menyerah dengan penyerahan yang bulat-bulat." (an-Nisa': 65)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Hanyasanya ucapan kaum mu'minin, apabila mereka diseru kepada jalan Allah dan RasulNya untuk memberikan hukum di antara mereka itu ialah mereka itu mengucapkan: "Kita semua mendengarkan dan mentaati." Mereka itu adalah orang-orang yang berbahagia." (an-Nur: 51)
Keterangan:
Setiap orang sudah pasti mengerti bahawa Islam adalah suatu agama yang sudah cukup lengkap hukum-hukumnya serta peraturan-peraturannya. Dalam segala macam persoalan Islam sudah menyediakan hukum yang wajib diterapkan untuknya itu, mulai dari hal yang sekecil-kecilnya seperti berkawan, adab pergaulan, berumah tangga dan lain-lain, juga sampai yang sebesarnya, misalnya menegakkan tertib hukum, mengatur keamanan dalam negara dan sebagainya. Dalam hal perselisihan antara orang seorang, antara golongan satu dengan lainnya, bahkan antara bangsa dengan lain bangsa pun tercantum pula hukumnya.
Jadi kita sebagai penganut agama Islam berkewajiban mengamalkan hukum-hukum itu tanpa membantah sama sekali, jika memang benar-benar nyata hukum itu dari Tuhan dan RasulNya dan bukan semata-mata dibuat-buat sendiri oleh manusia yang gemar pada kebid'ahan, jelasnya orang-orang yang mengada-adakan hukum dari kehendaknya sendiri dan dikatakan bahawa itulah hukum agama dari Tuhan.
Sementara itu segala persoalan yang terjadi, maka untuk menerapkan hukumnya jangan menggunakan hukum yang selain dari Tuhan dan RasulNya. Jadi persoalan itu kita cocokkan sesuai dengan hukum yang ada dalam agama Islam. Manakala kita mengerjakan kebalikannya, tentulah salah, iaitu persoalan yang ada itu kita carikan hukumnya dalam agama yang kiranya dapat sesuai dengan kehendak atau kemahuan hawa nafsu kita sendiri, atau disesuaikan dengan kemahuan orang lain yang kita anggap terhormat agar mendapatkan pujian atau sekadar harta daripadanya. Oleh sebab itu jikalau hukum agama itu diibaratkan sebagai kepala atau kaki, sekiranya kita ingin membeli kopyah atau sepatu, hendaknya kopyah dan sepatu itu yang kita cocokkan dengan kepala atau kaki kita dan tidak sebaliknya, yakni kepala atau kaki yang kita cocokkan dengan kopyah atau sepatu tersebut. Kalau kekecilan, kepala dan kaki diperkecilkan dan kalau kebesaran, lalu kepala atau kaki dipukuli agar bengkak sehingga cocok dengan kopyah atau sepatu yang berukuran besar tadi.
Ringkasnya dalam segala hal, jangan sampai hukum agama yang dikalahkan, sebaliknya itulah yang justeru wajib dimuliakan dan dijunjung setinggi-tingginya, sebab memang datangnya dari Tuhan Rabbul 'Alamin. Semogalah kita dapat melaksanakan yang sedemikian ini, sehingga berbahagialah hidup kita sejak di dunia sampai di akhirat nanti. Amin.
Dalam bab ini ada beberapa Hadis, di antaranya ialah Hadis Abu Hurairah yang tercantum dalam permulaan bab sebelum ini – lihat Hadis no. 156 - dan ada pula Hadis-hadis yang lainnya.
168. Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Ketika ayat ini turun pada Rasulullah s.a.w. iaitu-yang ertinya: Bagi Allah adalah apa-apa yang ada di dalam langit dan apa yang ada di bumi. Jikalau engkau semua terangkan apa-apa yang dalam hatimu alau jikalau engkau semua sembunyikan itu, nescaya Allah akan memperhitungkan semuanya," sampai akhir ayat.
Dikala itu, maka hal yang sedemikian tadi dirasa amat berat oleh para sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka lalu mendatangi Rasulullah s.a.w. kemudian mereka berjongkok di atas lutut mereka lalu berkata: "Ya Rasulullah, kita telah dipaksakan untuk melakukan amalan-amalan yang kita semua juga kuat melaksanakannya, iaitu shalat, puasa, jihad dan sedekah. Tetapi kini telah diturunkan kepada Tuan sebuah ayat dan kita rasanya tidak kuat melaksanakannya.
Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Adakah engkau semua hendak mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh dua golongan ahlul kitab-kaum Nasrani dan Yahudi -yang hidup sebelummu semua ini, iaitu ucapan: "Kita mendengar tetapi kita menyalahi." Tidak boleh sedemikian itu, tetapi ucapkanlah: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan padaMu, ya Tuhan kita, dan kepadaMu lah tempat kembali."
Setelah kaum - sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. - membaca itu, lagi pula lidah-lidah mereka telah tunduk - tidak boleh bercakap sesuatu, lalu Allah Ta'ala menurunkan lagi sesudah itu ayat - yang ertinya:
"Rasul itu mempercayai apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu pula orang-orang yang beriman. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. Mereka berkata: "Kita tidak membeza-bezakan seorangpun di antara rasul-rasul Allah itu." Mereka berkata lagi: "Kita mendengar dan kita mentaati. Kita memohonkan pengampunan daripadaMu, ya Tuhan kita dan kepadaMulah tempat kembali."
Selanjutnya setelah mereka telah melaksanakan sebagaimana isi ayat di atas itu, lalu Allah 'Azzawajalla menurunkan lagi ayat - yang ertinya:
"Allah tidak melaksanakan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekadar kekuatannya belaka, bermanfaat untuknya apa-apa yang ia lakukan dan berbahaya pula atasnya apa-apa yang ia lakukan. Ya Tuhan kita, janganlah Engkau menghukum kita atas sesuatu yang kita lakukan kerana kelupaan atau kekhilafan - yang tidak disengaja."
Beliau s.a.w. bersabda: "Benar - kita telah melaksanakan."
"Ya Tuhan kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita beban yang berat, sebagaimana yang telah Engkau pikulkan kepada orang-orang yang terdahulu sebelum kita."
Beliau bersabda: "Benar."
"Ya Tuhan kita, janganlah Engkau pikulkan kepada kita sesuatu yang kita tidak kuat melaksanakannya."
Beliau bersabda: "Benar."
"Dan berilah maaf dan pengampunan, belas kasihanlah kita. Engkau pelindung kita, maka tolonglah kita terhadap kaum kafirin itu."
Beliau bersabda: "Benar." (Ayat di atas dari surat al-Baqarah 286). (Riwayat Muslim)

Wednesday, September 26, 2012

Kursus / Privat Belajar Baca-Tulis Al-qur'an (yogya karta)

MARI AJAK PUTRA-PUTRI ANDA UNTUK
BELAJAR BACA TULIS AL-QUR'AN
BERSAMA KAMI
Hub : 085743149192.



dizaman yang semakin berkembang ini dimana orang-orang tersibukkan dengan urusan duniawi tak sadar kewajiban sebagai seorang hamba untuk menghambakan diri kepada sang pencipta terlalaikan.

membaca Al-qur'an dengan benar adalah suatu kewajiban bagi umat islam. karena didalam sholat lima waktu mengandung bacaan-bacaan Al-qur'an yang mana jika tidak kita baca menjadikan tidak sahnya sholat.
mayoritas penduduk negara kita adalah beragama islam, namun sayangnya dari sekian banyak warga yang mengaku beragama islam sedikit sekali yang bisa membaca Al-quran dengan baik dan benar.

Dengan sebab itu kami mengajak saudara/i untuk belajar membaca dan menulis Al-qur'an bersama kami.


METODE : Yanmbu'A Kudus


Yanbu’A  jilid 1-9 :
-       Jilid 1-5 adalah materi pokok pembelejaran Al-qur’an
-       Jilid  6 untuk melatih bacaan-bacaan ghoro’ibul Qur’an  (bacaan-bacaan yang langka)
-       Jilid 7 pendalaman limu tajwid dan Qiro’ah
-       Jilid 8 mengenal dan memahami makhorijul huruf.
-    Dan Hafalan do'a2 

Tajwid / Tuhfatul Atfal

 Akhlaq / Akhlakul Banin


Kami akan membantu Anda. untuk Anak SD, SMP, SMA, dan UMUM
Kusus Wilayah Yogya Karta Hub : 085743149192.

Tuesday, September 25, 2012

HADITS KETIGA (arba'in nawawi)


 HADITS KETIGA
 عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.[رواه الترمذي ومسلم ]Terjemah hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob radiallahuanhuma dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyamakan Islam dengan bangunan yang kokoh dan tegak diatas tiang-tiang yang mantap.Pernyataan tentang keesaan Allah dan keberadaannya, membenarkan kenabian Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam,  merupakan hal yang paling mendasar dibanding rukun-rukun yang lainnya.Selalu menegakkan shalat dan menunaikannya secara sempurna dengan syarat rukunnya, adab-adabnya dan sunnah-sunnahnya agar dapat memberikan buahnya dalam diri seorang muslim yaitu meninggalkan perbuatan keji dan munkar karena shalat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar.Wajib mengeluarkan zakat dari harta orang kaya yang syarat-syarat wajibnya zakat sudah ada pada mereka lalu memberikannya kepada orang-orang fakir dan yang membutuhkan.Wajibnya menunaikan ibadah haji dan puasa (Ramadhan) bagi setiap muslim.Adanya keterkaitan rukun Islam satu sama lain. Siapa yang mengingkarinya maka dia bukan seorang muslim berdasarkan ijma’.Nash diatas menunjukkan bahwa rukun Islam ada lima, dan masih banyak lagi perkara lain yang penting dalam Islam yang tidak ditunjukkan dalam hadits. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“ Iman itu terdapat tujuh puluh lebih cabang “
Islam adalah aqidah dan amal perbuatan. Tidak bermanfaat amal tanpa iman demikian juga tidak bermanfaat iman tanpa amal .

Monday, June 18, 2012

Qana'ah — Puas Dengan Apa Adanya Dan Tetap Berusaha, 'Afaf — Enggan Meminta-minta, Berlaku Sederhana Dalam Kehidupan Dan Berbelanja Serta Mencela Meminta Tanpa Dharurat

Allah Ta'ala berfirman:
"Tiada sesuatupun binatang yang bergerak di bumi itu, kecuali atas tanggungan Allah jualah keadaan rezekinya." (Hud: 6)
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Berikanlah sedekah itu kepada kaum fakir yang terkepung dalam menjalankan jihad fi-sabilillah, mereka tidak dapat berjalan keliling negeri. Orang-orang yang tidak mengetahui akan mengira bahawa mereka itu adalah orang-orang yang kaya kerana bersikap ta'affuf - enggan meminta-minta. Engkau dapat mengenal mereka itu dengan tanda-tandanya yakni bahawa mereka itu tidak mahu meminta kepada para manusia secara berulang kali - yakni menyangat-nyangatkan permintaannya." (al-Baqarah: 273)
Juga Allah Ta'ala berfirman:
"Dan mereka - hamba-hamba Allah yang berbakti - itu apabila menafkahkan hartanya, maka mereka itu tidak melampaui batas - terlalu boros - dan tidak pula bersikap kikir, tetapi pertengahan antara keduanya itu." (al-Furqan: 67)
Allah Ta'ala berfirman pula:
"Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia itu melainkan supaya menyembah padaKu. Aku tidak hendak meminta rezeki kepada mereka dan Aku tidak hendak meminta supaya mereka memberi makanan kepadaKu." (adz-Dzariyat: 56-57)
Adapun Hadis-hadisnya, maka sebahagian besar telah dihuraikan dalam kedua bab yang ada di depan. Di antaranya yang belum terdapat di depan ialah:

Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Bukannya yang dinamakan kaya itu kerana banyaknya harta, tetapi yang dinamakan kaya - yang sebenarnya - ialah kayanya jiwa." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sungguh berbahagialah orang yang masuk Agama Islam dan diberi rezeki cukup serta dikurniai sifat qana'ah oleh Allah dengan apa-apa yang direzekikan kepadanya itu." (Riwayat Imam Muslim)

Dari Hakim bin Hizam r.a.,katanya: "Saya meminta kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu padaku, lalu saya meminta lagi pada beliau, kemudian beliau pun memberikan pula sesuatu padaku, selanjutnya beliau bersabda:
"Hai Hakim, sesungguhnya harta ini adalah sebagai benda yang kehijau-hijauan - yakni enak dirasakan dan nyaman dipandang juga manis. Maka barangsiapa yang mengambilnya itu dengan jiwa kedermawanan - dari orang yang memberikannya serta memintanya itu dengan tidak memaksa, tentulah harta itu memperolehi berkah Tuhan, tetapi barangsiapa yang mengambilnya itu dengan jiwa kelobaan - atau ketamakan, maka tidak memperolehi berkah Tuhan dalam harta tadi. Ia adalah sebagai seseorang yang makan, namun tidak kenyang-kenyang. Tangan yang bahagian atas - yang memberi - adalah lebih mulia daripada yang bahagian bawah - yang diberi."
Hakim lalu berkata: "Ya Rasulullah, demi Zat yang mengutus Tuan dengan membawa kebenaran, saya tidak akan suka lagi menerima sesuatu dari seseorang pun sepeninggalan Tuan nanti, sehingga saya akan berpisah dengan dunia - yakni sampai mati."
Abu Bakar r.a. pernah mengundang Hakim kerana hendak memberikan sesuatu padanya, tetapi Hakim menolak untuk menerima sesuatu pun dari pemberian itu. Seterusnya Umar r.a. pernah pula memanggilnya untuk memberikan sesuatu pada Hakim itu, tetapi ia juga enggan menerima pemberian tadi. Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma itu memanggil di kala keduanya menjabat sebagai khalifah secara bergantian. Umar lalu berkata: "Hai sekalian kaum Muslimin, saya mempersaksikan kepadamu semua atas diri Hakim ini, bahawasanya saya menawarkan padanya akan haknya yang saya wajib membahagikan untuknya dari harta rampasan, tetapi ia enggan mengambil haknya itu.
Hakim memang tidak pernah menerima sesuatu pemberian dari seseorang pun setelah wafatnya Nabi s.a.w., sehingga ia meninggal dunia. (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Burdah dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Kita semua keluar bersama Rasulullah s.a.w. dalam melakukan sesuatu peperangan. Kita semua ada enam orang banyaknya - yakni yang menyertai Nabi s.a.w. itu, di antara kita ada seekor unta yang kita gunakan untuk ganti-berganti menaikinya. Maka berlubang-lubanglah kaki-kaki kita, juga kakiku pun berlubang-lubang pula dan jatuhlah kuku-kukuku. Oleh sebab itu kita lalu membalutkan beberapa helai kain pada kaki-kaki kita itu dan dengan demikian peperangan itu dinamakan perang Dzatu riqa' - mempunyai beberapa balutan kain, kerana kita membalutkan beberapa helai kain pada kaki-kaki kita tadi."
Abu Burdah berkata: "Abu Musa menceriterakan Hadis ini, kemudian ia merasa tidak senang dalam menghuraikannya itu dan ia mengatakan: "Apa yang dapat saya lakukan dengan menyebut-nyebutkannya itu?" Abu Burdah melanjutkan katanya: "Seolah-olah Abu Musa itu tidak senang kalau menyebutkan sesuatu amalannya, lalu disiar-siarkannya." (Muttafaq 'alaih)
Maksudnya: Oleh sebab adanya bala' sampai kaki-kaki menjadi rosak dan kuku-kuku lepas itu adalah semata-mata urusan antara manusia dengan Tuhan, maka menurut anggapan Abu Musa r.a. tidak perlu diterang-terangkan, supaya tidak dianggap sebagai mempamirkan jasa atau amalan."

Dari 'Amr bin Taghlib - dengan fathahnya ta' mutsannat di atas dan sukunnya ghain mu'jamah dan kasrahnya fam - r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. didatangi - memperolehi - harta atau rampasan, lalu beliau s.a.w. membahagikan itu. Ada beberapa orang yang beliau beri dan ada pula beberapa orang yang beliau tinggalkan - yakni tidak diberi bahagian. Kemudian sampailah suatu berita kepada beliau bahawa orang-orang yang tidak diberi itu sama mencela cara beliau membahagikan tadi. Beliau s.a.w. lalu bertahmid kepada Allah lalu memujiNya, kemudian bersabda:
"Amma ba'du." Sesungguhnya saya niscayalah memberikan bahagian kepada golongan - beberapa orang, kerana saya mengetahui keluh kesah dalam hati mereka itu serta sesambatan mereka yang amat sangat, sedang segolongan lain saya serahkan kepada Allah, kerana Allah telah memberikan kekayaan bathin dan kebaikan dalam hati mereka ini, di antara mereka ini adalah 'Amr bin Taghlib."
'Amr bin Taghlib berkata: "Demi Allah, saya - amat gembira mendengar pujian beliau s.a.w. itu pada saya, sehingga kerana gembiranya, maka saya - tidak suka andai kata kalimat Rasulullah s.a.w. yang ditujukan kepada saya itu ditukar dengan ternak-ternak merah - sebagai kiasan sebaik-baik harta bagi bangsa Arab." (Riwayat Bukhari)

Dari Hakim bin Hizam r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Tangan yang bahagian atas - yang memberi - adalah lebih mulia daripada tangan yang bahagian bawah -yang diberi. Dan dahulukanlah dalam pemberian itu kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu - yakni yang wajib dinafkahi. Sebaik-baik sedekah ialah yang diberikan di luar keperluan - yakni keadaan diri sendiri dan keluarga sudah dicukupi. Barangsiapa yang enggan meminta, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya dan barangsiapa tidak memerlukan pemberian manusia, maka Allah akan memberikan kekayaan padanya." (Muttafaq 'alaih)
Ini adalah lafaznya Imam Bukhari, sedang lafaznya Imam Muslim adalah lebih ringkas lagi.

Dari Abu Abdir Rahman, iaitu Mu'awiyah bin Abu Sufyan iaitu Shakhr bin Harb radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua mempersangatkan dalam meminta sesuatu sebab demi Allah, tidaklah seseorang dari engkau semua itu meminta sesuatu, kemudian kerana permintaannya itu lalu dapat mengeluarkan sesuatu pemberian daripadaku untuknya, sedangkan saya tidak senang dengan cara memintanya, selanjutnya lalu diberkahi untuk orang tadi dalam apa-apa yang saya berikan." (Riwayat Muslim)
Maksudnya bahawa rezeki yang berasal dari meminta, apabila rezeki itu menjadi bertambah banyak dan kekal kerana dibuat berusaha umpamanya, maka yang diminta dengan baik yakni tidak seolah-olah memaksa adalah lebih baik dan lebih banyak berkahnya dari yang diminta dengan nada yang seolah-olah  memaksa.

Dari Abu Abdir Rahman, iaitu 'Auf bin Malik al-Asyja'i r.a., katanya: "Kita semua ada di sisi Rasulullah s.a.w. dan kita ada sembilan, lapan atau tujuh orang, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Tidakkah engkau semua berbai'at kepada Rasulullah?" Padahal kita semua baru beberapa hari saja melakukan pembai'atan pula pada beliau itu, oleh sebab itu kita berkata: "Kita semua telah membai'at Tuan, ya Rasulullah." Kemudian beliau s.a.w. bersabda lagi: "Tidakkah engkau semua berbai'at kepada Rasulullah?" Kita lalu membeberkan tangan-tangan kita dan kita berkata: "Kita semua dulu sudah berbai'at kepada Tuan, ya Rasulullah dan sekarang kita berbai'at lagi dalam hal apakah?" Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Hendaklah engkau semua menyembah kepada Allah yang Maha Esa dan jangan menyekutukan sesuatu denganNya, tetapi tetaplah mengerjakan shalat lima waktu dan sampai engkau semua mendengarkan serta melakukan ketaatan," lalu beliau memperlahankan suaranya dan bersabda dengan berbisik: "Dan jangan meminta sesuatu apa pun dari orang-orang."
Maka sungguh saya pernah melihat ada orang yang termasuk golongan orang-orang di atas itu, ketika cemetinya jatuh, ia tidak meminta seseorang supaya diambilkan cemetinya tadi." (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Tidak henti-hentinya permintaan itu menghinggapi seseorang di antara engkau semua - yakni orang yang senantiasa mempunyai tabiat suka meminta-minta itu tidak akan berhenti, sehingga ia menemui Allah Ta'ala - iaitu pada hari kiamat nanti - sedang di wajahnya itu tidak terdapat sepotong daging pun - jadi dalam keadaan sangat hina-dina." (Muttafaq 'alaih)

Dari Ibnu Umar r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, sedang di kala itu beliau berada di atas mimbar dan menyebut-nyebutkan perihal sedekah dan menahan diri dari meminta:
"Tangan yang bahagian atas adalah lebih baik daripada tangan yang bahagian bawah. Tangan yang bahagian atas itu adalah yang menafkahkan - yakni yang memberikan sedekah, sedang tangan yang bahagian bawah adalah yang meminta." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang-orang dengan maksud supaya menjadi banyak apa yang dimilikinya - jadi sudah cukup tetapi terus saja meminta-minta, maka sebenarnyalah orang itu meminta bara api. Maka dari itu baiklah ia memilih hendak mempersedikitkan atau memperbanyakkan - siksanya." (Riwayat Muslim)
Keterangan:
Hadis di atas dapat diertikan bahawa orang sebagaimana yang tersebut itu yakni yang meminta-minta lebih dari keperluannya atau untuk mencari yang sebanyak-banyaknya akan disiksa dalam neraka dan oleh Rasulullah s.a.w. dikiaskan sebagai orang-orang yang meminta bara api. Tetapi dapat pula diertikan dengan makna yang sebenarnya menurut lahiriyah sabda beliau s.a.w., iaitu bahawa bara api akan dimasukkan dalam seterika dan kepada orang sebagaimana di atas itu akan diseterikakan pada punggung dan lambungnya, seperti juga keadaan orang yang sudah berkewajiban zakat, namun enggan mengeluarkan atau menunaikan kewajiban zakatnya.
Demikianlah yang dihuraikan oleh al-Qadhi 'lyadh dalam menafsiri Hadis di atas