Friday, June 15, 2012

Brosur Pondok Pesantren Darul Hikmah
















المعهد الأسلا مية القرآنية و السلفية

دار الحكمة

PONDOK PESANTREN QUR'ANI DAN SALAFI
DARUL HIKMAH

Jl. Pramuka Taman Asri Baradatu Waykanan Lampung.
tlp 082133901730 / 085278313303 / 085669449610


 
Sekilas Pondok Pesantren

Pondok Pesantren Darul Hikmah adalah pondok Qur’ani dan Salafi yang berdiri pada tahun 1999 yang di asuh oleh Bapak K.H. Ahmad Supandi.
Bapak K.H. Ahmad Supandi adalah alumni Pondok Pesantren  Gedongsari Nganjuk jawa timur.
berdirinya pondok ini dibantu juga oleh dua orang santri dari jawa yang bernama “Ustadz Sahlan Failani dan Ustadz Sholeh Mubarok”. Beliau adalah seorang alumni pondok pesantren yang datang untuk ikut menyebarkan Ilmunya.
Bapak K.H. Ahmad Supandi Sebelum Beliau mendirikan pondok  pesantren, Beliau mengajar ngaji kepada Putra-putrinya dan anak-anak di desa sekitar, di masjid, dan di rumah beliau. dengan didukung suara beliau yang bagus dan pandai melantunkan Qiro’atul Qur’an beliau mampu menarik masyarakt menjadi masyarakat yang Agamis dan Sosialis.
Qur’ani dan Salafi menjadi tongkat utama dalam berjalannya belajar-mengajar di pondok pesantren darul hikmah. dengan rahmat Allah dan dukungan seluruh jajaran masarakat  diresmikanlah pondok Pesantren Darul Hikmah sebagai sarana pendidikan agama bagi Putra-putri masarakat  untuk menjadi orang yang berilmu dan taat kepada Allah dan Rosulnya.
Dengan bermodalkan Ilmu, keikhlasan, ketulusan, kepercayaan dan semangat juang yang tinggi serta dukungan dari masyarakat untuk menegakkan Agama, hingga saat ini jumlah Santri pondok pesantren darul hikmah telah mencapai lebih dari tigaratus santri, dan telah meWisudakan 17 Santri yang telah hatam Alqur’an.

Pengelola

Bapak K.H. Ahmad Supandi
Ustadz Sahlan Failani
Ustadz Sholeh Mubarok
Ustadz Alifuddin Al-hafidz. SQ.
Ustadz Muhammad Syauqi
Dan dibantu seluruh Ustadz-ustadzah Pondok Pesantren Darul Hikmah

Tujuan Pondok Pesantren Darul Hikmah

Memasyarakatkan Al-qur’an dan mengQur’ankan masyarakat
Mempesantrenkan masyarakat dan memasy
arakatkan pesantren
Mencetak generasi umat yang agamis, religius  dan berilmu. 
Agar dapat berahlakulkarimah, mengamalkan Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rosul.

Program pendidikan

Roudoh Tarbiyah Qur’an (RTQ) /TPA

Yanbu’A  - Jilid  TK.
Yanbu'a jilid TK adalah materi awal yang di khususkan bagi yang belum mengenal huruf hijaiyyah.

Yanbu’A  jilid 1-5:

Yanbu'a jilid 1-5 adalah materi pokok pembelejaran Al-qur’an

 Yanbu'a jilid  6

Yanbu'a jilid  6 untuk melatih bacaan-bacaan ghoro’ibul Qur’an  (bacaan-bacaan yang langka)

 Yanbu'a jilid 7

Yanbu'a jilid 7 pendalaman limu tajwid dan Qiro’ah

 Yanbu'a jilid 8

Yanbu'a jilid 8 mengenal dan memahami makhorijul huruf.

 Yanbu'a jilid 9

Yanbu'a jilid 9 materi hafalan do’a-do’a harian dan surat-surat pendek

Paska jilid        :

-       Mudarosah mendalami tajwidil qur’an dan makhorijul huruf
-       Tahfidzil Qur’an Juz A’mma
-       Program pelatihan terjemah Al-qur’an (PPTQ)

Madrasah diniyah tingkat  Ula

-       Aqidah dan Akhlaq 
-   Ta'limul Muta'allim
-       Fiqih
-   Tajwid 
-       Nahwu dan Shorof
-       Tahfidzil Qur’an (menghafal qur’an)

Pengkajian kitab kuning

-       Sorogan / praktek membaca
-   Tafsir Jalalain
-       Pengajian Weqton

Ekstra kulikuler

-       Al –barzanzi
-       Manaqib
-    Pelatihan Terbang dan Marawis
-       Istighosah
-       Seni marawis dan sholawat
-       Pengajian bulanan
 
Pembantu Pengasuh /A’wan

Tiga Dewan Al-Hafidz - hafidzoh dari pondok pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus jawa tengah, oleh K.H. Ulinnuha Arwani.
Satu Dewan Hafidzoh dari Nggerning oleh K.H. Abrori Akhwan.
Satu Hafidz dari kudus oleh K.H.Nurmuttaqin.
Satu Hafidz dari Bali oleh K.H. Nur Hadi.
Satu Hafizoh dari Malang Oleh K.H. Abdul
Manan Syukur.
Dan dengan dibantu para Santri yang telah lulus  dan telah mengikuti diklat metode pendidikan Yanbu’A.


Tempat pendaftaran
Pondok Pesantren Darul Hikmah. Jl. Pramuka Taman Asri, Baradatu Waykanan,Lampung.

Syarat-syarat pendaftaran

-   Orang tua atau wali sepenuhnya menyerahkan putra-putrinya kepada pengasuh dengan tulus dan ikhlas.
-       Mengisi formulir yang disediakan  oleh panitia.
-       Menyerahkan foto terbaru  3x4 dua lembar.
-       Membayar uang gedung sebesar Rp 50.000/th.
-       Membayar syahriah satu bulan – Rp 10.000,
-       Membayar uang seragam sebesar Rp 120.000,
-       Siap mentaati tata tertib pondok pesantren.

Fasilitas 

Dengan lokasi pondok pesantren sebesar kurang lebih satu hektar yaitu :
-       Mushola berfungsi sebagai pusat kegiatan Ibadah
-       Asrama putra (Al-munawwir)  20x8 m./ empat kamar santri dan  tiga lokal sekolah
-       Asrama putri (Arwaniyyah) 40x9 m. Empat kamar santri putri, empat lokal belajar, empat kamar mandi dan qullah / tempat berwudlu
-       Dapur santri 5x10 m. dengan perlengkapannya
-       Kantor 10x4 m. Satu lokal, dua kamar tamu, dua kamar mandi

       Jadwal waktu kegiatan santri

-       Maghrib                 17.30 – 19.00
-       Isyak                       19.30 – 20.30
-       Subuh                    04.00 – 06.00
-       Dzuhur                   12.30 – 15.00
-       Ashar                     15.30 – 17.00


































 
 

Wednesday, June 13, 2012

tawadhu' dan takabbur

Apa itiu Tawadhu' dan apa itu Takabbur
tawadhu' yaitu sifat yang Allah berikan kepada manusia agar tetap selalu ingat bahwa sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah termasuk harta kekayaan dan lain-lain. namun sifat ini tidak semua orang memilikinya, walau sesungguhnya setiap orang telah mengetahui bahwa tawadhu' adalah sifat yang disukai semua makhluk, namun sangat sulit untuk meraihnya, karena sifat tawadhu' ini selalu berperang dengan sifat takabbur.
sedangkan takabbur yaitu sifat yang ada pada setiap makhluk yang bernyawa. sifat ini berasal dari makhluk Allah yaitu Iblis. Iblis adalah makhluk Allah yang Allah ciptakan dari Api, pada mulanya Allah ciptakan sebagai makhluk yang mulia, yang Allah berikan kenikmatan yang sangat luarbiasa yaitu SURGA. Namun ketika Allah menciptakan Adam Allah memerintah Iblis untuk bersujud kepada Adam agar memuliakanNnya, dengan gagahnya Iblis menolak perintah Allah karena dia merasa dirinya lebih lebih baik daripada Adam atas dasar Adam hanya diciptakan dari tanah dan Dia diciptakan dari Api. lalu di usirlah Iblis dari Surga atas kesombongannya. sifat ini adalah termasuk sifat yang pertama yang mengeluarkan makhluk Allah dari surga, maka dari itu kita harus sangat berhati-hati dengan sifat ini.
dua sifat manusia ini sangat berbeda, namun dua sifat ini sulit sekali untuk membedakan mana yang tawadhu' dan mana yang sombong. walau dua sifat ini memiliki perbadaan yang sangat berlawanan, namun dalam prakteknya tidak bisa kita katakan seseorang yang terlihat tawadhu' itu benar-benar tawadhu'. karena bisa jadi orang tersebut hanya ingin dinilai orang lain sebagai orang yang tawadhu', karena sifat takabbur ini sangat manusiawi, (setiap manusia ingin dipuji) dan jika seperti itu maka dialah orang yang takabbur yang sesungguhnya. "sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah" namun begitu juga sebaliknya jika ada sesorang yang terlihat takabbur, misalnya "sok pinter, sok kaya, sok hebat" tapi sesungguh nya tiadalain dia hanya ingin orang-orang menilai dia sebagai orang bodoh atasnya/ tongkosong nyaring bunyinya, maka sesungguhnya dialah orang yang Tawadhu' sesungguhnya.

Sunday, June 10, 2012

darul hikmah

ASATIZ

 SANTRI DARUL HIKMAH
 istirahat slsy ngaji
 tangga menuju asrama
santri putri

Thursday, June 7, 2012

Kunci Masuk Surga ~ Pondok Pesantren Darul Hikmah

Kunci Masuk Surga ~ Pondok Pesantren Darul Hikmah
http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/578277_146178422183272_1909292247_n.jpg

Tuesday, May 29, 2012

Kunci Masuk Surga



Rasululullah shallallahu’alaihiwasallam bercerita,
“سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِىءُ بَعْدَ مَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَىْ رَبِّ كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ. فَقَالَ فِى الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ…”.
“(Suatu saat) Nabi Musa bertanya kepada Allah, ”Bagaimanakah keadaan penghuni surga yang paling rendah derajatnya?”. Allah menjawab, “Seorang yang datang (ke surga) setelah seluruh penghuni surga dimasukkan ke dalamnya, lantas dikatakan padanya, “Masuklah ke surga!”. “Bagaimana mungkin aku masuk ke dalamnya wahai Rabbi, padahal seluruh penghuni surga telah menempati tempatnya masing-masing dan mendapatkan bagian mereka” jawabnya. Allah berfirman, “Relakah engkau jika diberi kekayaan seperti raja-raja di dunia?”. “Saya rela wahai Rabbi” jawabnya. Allah kembali berfirman, “Engkau akan Kukaruniai kekayaan seperti itu, ditambah seperti itu lagi, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu, ditambah seperti itu dan ditambah seperti itu lagi”. Kelima kalinya orang itu menyahut, “Aku rela dengan itu wahai Rabbi”. Allah kembali berfirman, “Itulah bagianmu ditambah sepuluh kali lipat darinya, plus semua yang engkau mauim serta apa yang indah di pandangan matamu”. Orang tadi berkata, “Aku rela wahai Rabbi”…”. HR. Muslim (I/176 no 312) dari al-Mughîrah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu.
Seorang muslim yang mendengar hadits di atas atau yang semisal, ia akan semakin merindukan untuk meraih kemenangan masuk ke surga Allah kelak. Bagaimana tidak? Sedangkan orang yang paling rendah derajatnya di surga saja sedemikian mewah kenikmatan yang akan didapatkan di surga, lantas bagaimana dengan derajat yang di atasnya? Bagaimana pula dengan orang yang menempati derajat tertinggi di surga? Pendek kata mereka akan mendapatkan kenikmatan yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an,
“فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ”.
Artinya: “Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka; yaitu (bermacam-macam kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. QS. As-Sajdah: 17.
Namun anehnya ternyata masih banyak di antara kaum muslimin yang tidak ingin masuk surga, sebagaimana telah disinggung oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam haditsnya,
“كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى” قَالُوا: “يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى؟” قَالَ: “مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى”.

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan (untuk masuk surga)?”. Beliau menjawab, “Barang siapa yang taat padaku maka ia akan masuk surga, dan barang siapa yang tidak mentaatiku berarti ia telah enggan (untuk masuk surga)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Jadi tidak setiap yang mendambakan surga, kelak akan mendapatkannya; karena surga memiliki kunci untuk memasukinya; barang siapa yang berhasil meraihnya di dunia; niscaya ia akan merasakan manisnya kenikmatan surga kelak di akhirat, sebaliknya barang siapa yang gagal merengkuhnya; maka ia akan tenggelam dalam kesengsaraan siksaan neraka.
Kunci tersebut ada empat, yang secara ringkas adalah:
1.Ilmu.
2.Amal.
3.Dakwah.
4.Sabar.
Empat kunci ini telah Allah subhanahu wa ta’ala isyaratkan dalam surat al-’Ashr:
“وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ”.
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang (1) beriman[1], (2) beramal shalih, (3) saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan (4) saling nasehat menasehati dalam kesabaran”. QS. Al-’Ashr: 1-3.
Sedemikian agungnya surat ini, sampai-sampai Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas para hamba-Nya melainkan hanya surat ini; niscaya itu telah cukup”[2].
Berikut penjabaran ringkas, masing-masing dari empat kunci tersebut di atas:
1. Kunci Pertama: Ilmu:
Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, yaitu ilmu yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat Nabi shallallahu’alaihiwasallam.
Ilmu yang dibutuhkan oleh seorang insan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban agama, wajib hukumnya untuk dicari oleh setiap muslim dan muslimah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,
“طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ”
.
“Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim”. HR. Ibnu Majah dari Anas bin Mâlik ط, dan dinyatakan sahih oleh Syaikh al-Albâni dalam tahqiqnya atas Misykâh al-Mashâbîh.
Di antara beragam disiplin mata ilmu agama, yang seharusnya mendapatkan prioritas pertama dan utama untuk dipelajari dan didalami terlebih dahulu oleh setiap muslim adalah: ilmu tauhid. Karena itulah pondasi Islam dan inti dakwah seluruh rasul dan nabi. Allah ta’ala berfirman,
“وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ”.
Artinya: “Dan telah Kami utus seorang rasul di setiap umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut”. QS. An-Nahl: 36.
2. Kunci Kedua: Amal:
‘Perjalanan suci’ seorang hamba setelah memiliki ilmu belum usai, namun masih ada ‘fase sakral’ yang menantinya; yaitu mengamalkan ilmu yang telah ia miliki tersebut. Ilmu hanyalah sarana yang mengantarkan kepada tujuan utama yaitu amal.
Demikianlah urutan yang ideal antara dua hal ini; ilmu dan amal. Sebelum seorang beramal ia harus memiliki ilmu tentang amalan yang akan ia kerjakan, begitupula jika kita telah memiliki ilmu, kita harus mengamalkan ilmu tersebut.
Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya akan dicap menyerupai orang-orang Yahudi, dan mereka merupakan golongan yang dimurkai oleh Allah ta’ala, sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak berlandaskan ilmu, mereka akan dicap menyerupai orang-orang Nasrani, dan merupakan golongan yang tersesat. Dua golongan ini Allah singgung dalam ayat terakhir surat al-Fatihah:
“اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ”.
Artinya: “Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus. Yaitu jalan golongan yang engkau karuniai kenikmatan atas mereka, bukan (jalannya) golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat“. QS. Al-Fatihah: 6-7.
3. Kunci Ketiga: Dakwah:
Setelah seorang hamba membekali dirinya dengan ilmu dan amal, dia memiliki kewajiban untuk ‘melihat’ kanan dan kirinya, peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Kepedulian itu ia apresiasikan dengan bentuk ‘menularkan’ dan mendakwahkan ilmu yang telah ia raih dan ia amalkan kepada orang lain.
Inilah fase ketiga yang seharusnya dititi oleh seorang muslim, setelah ia melewati dua fase di atas. Dia berusaha untuk mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada orang lain, terutama keluarganya terlebih dahulu, dalam rangka meneladani metode dakwah Rasulullah shallallahu’alaihiwasallamyang Allah ceritakan dalam firman-Nya,
“وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ”.
Artinya: “Dan berilah peringatan (terlebih dahulu) kepada keluarga terdekatmu”. QS. Asy-Syu’arâ’: 214.
Tidak sepantasnya seorang da’i menyibukkan dirinya untuk mendakwahi orang lain di mana-mana lalu ‘menterlantarkan’ keluarganya sendiri; sebab sebelum ia ‘mengurusi’ orang lain, ia memiliki kewajiban untuk ‘mengurusi’ keluarganya terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allahta’ala dalam firman-Nya,
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً”.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”.QS. At-Tahrîm: 6.
Dalam berdakwah terhadap keluarga maupun kepada orang lain, kita dituntut untuk senantiasa mengedepankan sikap hikmah, dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala,
“ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ”.
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan jalan yang baik”. QS. An-Nahl: 125.
Inilah kunci ketiga yang akan mengantarkan seorang hamba ke surga. Namun seseorang tidak dibenarkan untuk langsung meloncat ke fase ketiga ini (yakni dakwah) tanpa melalui dua fase sebelumnya (yakni ilmu dan amal); karena jika demikian halnya ia akan menjadi seorang yang sesat dan menyesatkan ataupun menjadi seorang yang amat dibenci oleh Allah ta’ala.
Mereka yang berdakwah tanpa ilmu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sifati dalam sabdanya sebagai  orang yang sesat dan menyesatkan,
“إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا”
.
“Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama; hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga sesat dan menyesatkan“. HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amrradhiyallahu’anhuma, dengan redaksi Bukhari.
Sedangkan mereka yang berdakwah kemudian tidak mengamalkan apa yang didakwahkannya, Allah ta’ala cela dalam firman-Nya,
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ”.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika laian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. QS. Ash-Shaff: 2-3.
4. Kunci Keempat: Sabar:
Kesabaran dibutuhkan oleh setiap muslim ketika ia mencari ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya; karena tiga fase ini susah dan berat.
Proses pencarian ilmu membutuhkan semangat ‘empat lima’ dan kesungguhan, sebagaima disitir oleh Yahya bin Abi Katsir :, “Ilmu tidak akan didapat dengan santai-santai”.
Pengamalan ilmu juga membutuhkan kesabaran, karena hal itu merupakan salah satu jalan yang utama yang mengantarkan seorang hamba ke surga, dan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh nafsu. Dalam hadits shahih disebutkan,
“حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ”.
“(Jalan menuju ke) surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci (nafsu), sedangkan (jalan menuju ke) neraka diliputi dengan hal-hal yang disukai hawa nafsu”. HR. Muslim dari Anas bin Mâlikradhiyallahu’anhu.
Tidak ketinggalan, dakwah juga membutuhkan kesabaran, karena itu merupakan jalan yang dititi para rasul dan nabi.
Sa’ad radhiyallahu’anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya? Beliau shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Para nabi lalu mereka yang memiliki keutamaan yang tinggi, lalu yang di bawah mereka…”. HR. Tirmidzi dan beliau berkata, “Hasan shahih”, demikian pula komentar Syaikh al-Albani.
Inilah empat kunci masuk surga, semoga Allah ta’ala melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua untuk bisa meraihnya, amin.
Wallahu ta’ala a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in

1.   Al-Qur’an dan Terjemahannya.
2.   Kitab al-’Ilm, oleh al-’Utsaimîn.
3.   Misykâh al-Mashâbîh, karya at-Tibrîzî..
4.   4. Shahih Bukhari.
5.   5. Shahih Muslim.
6.   6. Sunan Ibn Mâjah.
7.   7. Sunan Tirmîdzi.
8.   Tafsir al-Imam asy-Syafi’i, dihimpun oleh Dr. Ahmad bin Mushthafa al-Farrân.

[1] Di dalam ayat tersebut disebutkan bahwa hal pertama yang akan menyelamatkan manusia dari kerugian adalah iman, lantas mengapa disimpulkan darinya bahwa kunci pertama dari empat kunci masuk surga adalah ilmu? Karena iman yang benar adalah iman yang dilandaskan di atas ilmu yang benar, jadi yang menjadi asas dan pondasi adalah ilmu. Lihat: Kitab al-’Ilm karya Syaikh